Ketaatan Pada Allah Adalah
Kebebasan, Kemuliaan dan Kemenangan
Ketaatan adalah naluri (gharîzah) dalam jiwa
manusia. Jika seorang hamba tidak menyalurkan nalurinya kepada Allah
SWT, maka dipastikan ia menyalurkannya kepada selain Allah. Seorang
penyembah dunia adalah orang-orang yang melarikan diri dari kebebasan
ketaatan kepada Allah menuju ketergantungan dan ketaatan kepada manusia.
Sehingga, apabila mereka diusir oleh tuannya, maka mereka akan mencari
tuan yang lain, karena di dalam jiwa mereka ada kebutuhan mendesak pada
perbudakan dan ketergantungan, karena naluri ketaatan yang ada di dalam
dirinya berubah menjadi rasa ketundukan yang harus dipuaskan. Sehingga
apabila tidak ada seseorang yang memperbudak mereka, maka diri mereka
merasa haus akan perbudakan, dan melemparkan diri mereka pada kerusakan
yang dengannya mereka mencari serta menanti isyarat dari jari seorang
tuan untuk mereka sembah. Adapun para penyembah Allah (ibâd
ar-rahman), maka mereka telah membebaskan diri mereka dari semua
belenggu dunia, dan mereka tidak pernah merasa puas kecuali dengan
ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, mereka ini pantas mendapatkan
kemuliaan seperti yang Allah firmankan:
“Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi
orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”
(TQS. Al-Munafiqun [63] : 8).
Selamat Kepada Ananda Muhammad Hafidz Sholahudin yang telah meraih juara dua hafalan qur'an surat surat pendek dan sekaligus juara tingkat 3 dalam lomba mewarnai.
Al khamdulillah siswa Paud Home
schooling Khoiru ummah el faith Reni Jaya Pondok Benda Pamulang, salah satu siswanya berhasil meraih
juara 2 dan 3, dalam lomba hafalan Qur’an , surat- surat pendek
dan mewarnai dalam acara menyambut tahun baru Islam 1435
H, yang diadakan oleh Yayasan Islam
Citra Matahari. Pada hari ini sabtu, 16 November 2013, di SDIT Citra
Matahari Jalan Haji Nurleman No 30 Benda
Baru Pamulang Tangerang Selatan. Dimeriahkan
dengan berbagai acara, lomba Hafalan Qur’an
surat-surat
pendek, lomba mewarnai, lomba fashion show, dan lain lain. Juga
dilengkapi
dengan bazaar, cerita atau dongeng anak, sulap dan seni tari. Acara yang diikuti oleh ratusan siswa dari berbagai KB, TK, dan Umum sekitar Kecamatan Pamulang khususnya kelurahan Benda Baru, katagori usia 3 sampai 6 tahun. Dihadiri oleh para orang tua siswa SDIT Citra Matahari, orang tua peserta lomba, dan masyarakat sekitar ingin menyaksikan kemeriahan acara tersebut. Dan kedepanya semoga lebih banyak lagi siswa siswa khoiru ummah elfatih sering mengikuti setiap ada event seperti ini.
Sekali lagi selamat untuk anakku Muhammad Hafidz Sholahudin, semoga semakin ratin belajar dan kelak menjadi anak yang sholeh dan mensholehkan, berguna untuk kedua orang tuanya, masyarakat serta agama.Amin ya Robbal 'alamin
Jakarta - Tanpa dipusingkan Ujian Nasional (UN), sejumlah anak tetap bisa
memiliki ijazah hingga SLTA. Mereka juga tetap bisa pintar dan terpelajar tanpa
perlu berangkat ke sekolah. Salah satunya adalah Minuk. Setiap pagi, Minuk kini
tidak perlu lagi terburu-buru mandi. Ia juga tidak harus menyantap sarapan
dengan tergesa-gesa. Meskipun hari itu bukan hari libur, gadis 17 tahun itu
bisa santai karena tidak harus berangkat ke sekolah. Minuk bukan dari kalangan
miskin yang tidak bisa sekolah karena masalah biaya. Gadis bernama lengkap Eka
Putri Dutasari adalah putri sulung Seto Mulyadi.
Dialah Ketua Komnas Anak yang akrab disapa Kak Seto yang tentu saja sangat
dikenal masyarakat. Soal biaya pasti bukan kendala bagi pria itu untuk
menyekolahkan anak-anaknya. Dulu, Minuk sempat sekolah bahkan hingga kelas I
SMA. Tapi ia merasa tidak nyaman dengan sekolahannya. Bagi gadis yang aktif
membantu kerja ayahnya di Komnas Anak itu, pendidikan di sekolah terlalu
mengekangnya. "Sistem yang dipakai seringnya sistem tekanan guru kepada
murid. Guru sering antikritik sehingga murid tidak mendapatkan rasa aman untuk
menunjukkan kreativitas dan kecerdasannya," papar Minuk. Kecewa dengan
sistem sekolah, Minuk pun memilih keluar. Ia merasa bisa belajar sendiri dan
lebih pintar tanpa harus berangkat ke sekolah.
Ia lantas memutuskan belajar sendiri di rumah alias mempraktekkan
homeschooling. Dengan sistem ini, putri sulung dari 4 bersaudara ini lebih
fleksibel menentukan waktu belajar. Setiap pagi Minuk tidak lagi harus mengurus
seragam ataupun menghabiskan waktu untuk menempuh perjalanan ke sekolah. Putri
Kak Seto itu kini bebas menentukan jam belajar dan jenis pelajaran sendiri. Ia
tidak perlu keluar rumah karena belajar bisa dilakukan di rumahnya sendiri.
Untuk pelajaran yang tidak sulit, Minuk mempelajarinya sendiri didampingi sang
ayah. Baru untuk pelajaran yang rumit seperti matematika atau pelajaran
eksakta, Minuk memanggil guru privat atau ikut bimbingan belajar. Minuk sangat
enjoy dengan sistem pendidikan di rumah. Beda dengan sekolah yang membuatnya
bosan sehingga ia menunggu-nunggu waktu pulang, homeschooling justru membuatnya
keenakan belajar. "Kalau di bawah bimbingan guru privat, selesainya
biasanya jam lima sore. Tapi kadang-kadang dengan kurikulum yang kita ciptain
sendiri malah aku keasyikan hingga lewat dari jam tersebut," jelas Minuk.
Hasilnya, pendidikan di SMA yang seharusnya selesai dalam 3 tahun, bisa Minuk
lewati hanya 2 tahun. Tanpa harus berangkat sekolah, Minuk dinyatakan lulus
SMA. Ia juga tidak dipusingkan Ujian Nasional (UN) yang kini menjadi
kontroversi. Setelah belajar sendiri di rumah, gadis 17 tahun itu mengikuti
ujian kejar paket C atau setara dengan SMA. Minuk lulus dan mengantongi
sertifikat Kejar Paket C. Dengan sertifikat itu, ia bersiap-siap untuk
mendaftar di Perguruan Tinggi. Di Indonesia, homeschooling memang belum umum.
Padahal jenis pendidikan ini sudah diterapkan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar
Dewantoro sejak zaman penjajahan Belanda. Di Amerika Serikat (AS), sistem
pendidikan ini diikuti lebih dari 1 juta orang.
Meski belum umum, sistem ini mulai banyak pengikutnya di Indonesia. Selain anak
Kak Seto, ada juga anak Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Sofjan
Djalil. Kemudian keluarga artis Neno Warisman dan Dick Doang. Ada juga keluarga
biasa seperti Wanti Wowor, Helen Ongko, dan Yayah Komariah. Wanti Wowor, ibu 4
anak memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya juga karena tidak puas dengan
sistem pendidikan yang ada. Perempuan 39 tahun itu pernah melihat praktik
bersekolah di rumah ketika berada di Amerika Serikat. Tahun 1992, Wanti
mengeluarkan semua anaknya dari sekolah. Wanti lantas meminta teman-temannya di
AS agar mengirimkan buku dan silabus kurikulum pendidikan di rumah ala AS untuk
diadopsi. Perempuan itu menetapkan pukul 08.00-12.00 WIB sebagai waktu belajar
di rumah. Untuk ujian, ia menerima draf soal ujian dari AS yang kemudian
dikirimkan kembali untuk dinilai. Anak-anak Wanti, Fini dan Fina, sekarang
duduk pada tingkat perguruan tinggi. Fini melanjutkan sekolah desain mode di
Esmod Jakarta, sedangkan Fina memilih Universitas Indonesia program
Internasional. Dibandingkan, mahasiswa lainnya yang bersekolah formal, Fini
mempunyai kelebihan lebih disiplin dan lebih berani mengeluarkan pendapat.
Apa itu homeschooling? Pada dasarnya homeschooling sebenarnya sama saja dengan
sekolah biasa. Hanya saja pendidikan ini dilakukan di rumah sehingga siswanya
tidak perlu berangkat ke sekolah formal. Menurut Kak Seto yang menjadi Ketua
Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Aternatif (Asahpena), kurikulum home
schooling seratus persen mengacu pada kurikulum nasional yang mencakup lima
materi. Yakni iptek, kewarganegaraan, keolahragaan, etika, dan estetika. Hanya
metodenya saja yang berbeda.
Pendidikan di rumah dibuat seperti tamasya yang menyenangkan. "Waktunya
fleksibel. Kalau ditanya kapan waktu belajarnya, dari bangun tidur sampai tidur
lagi. Tempatnya di mana saja. Di mana saja bisa di kamar tidur, ruang makan,
ruang keluarga, di kebun, taman, atau mungkin pabrik dan ketemu siapa
saja," jelas Kak Seto. Meski fleksibel soal waktu yang kesannya seperti
menggampangkan, sistem pendidikan ini mempunyai sejumlah keunggulan. Salah
satunya, homeschooling lebih manusiawi dibandingkan sekolah formal. Anak tidak
stres karena sistem pendidikan tidak kaku dan lebih kreatif. Selain itu, anak
bisa lebih fokus mengembangkan dan menekuni minat dan bakatnya masing-masing.
Mulai
tanggal 14 Oktober 2013 sudah libur dan Masuk lagi Hari Senin Tanggal, 21 Oktober
2013. Karena untuk menyambut Hari Raya Idhul Adha
1434 H, dan untuk itu kami dari Keluarga Besar Paud Home Schooling
Khoiru Ummah
El-Fatih Mengucapkan:
,”Selamat
Hari Raya Idhul Adha 1434 H, Selamat Liburan dan Selamat berqurban, semoga qurban kita diterima Allah SWT. Amin ,”
Atas
perhatianya Bapak/Ibu /Wali Murid tidak lupa kami ucapkan terima kasih.
Beberapa orang yakin, bahwa setiap orang yang ingin bersusah payah dalam
mencari ridho Allah agar bisa masuk surga. Semua itu bisa terlaksana (tercapai)
dengan cara yang cukup mudah yaitu dengan tahfizul quran (menghapal Al
Quran).
Tahfizul Quran adalah menghapal Al Quran, dan tidak hanya sebatas
dihapalkan, namun juga diamalkan walaupun baru sebatas satu ayat. Apalagi kalau
sudah banyak ayat yang dihapalkan, agar dakwah Islam bisa tersebar ke seluruh
dunia.
Kenapa dengan tahfizul quran bisa masuk surga secara instant? Karena Allah
Azza wa Jalla akan memasukkan para penghapal Quran kedalam keluargaNya, yakni
keluarga para penghapal Quran.
Selain itu, ternyata ketika menghapalkan Al Quran dapat membuat kita lebih
cerdas dan mudah dalam mengerjakan sesuatu. Kenapa? Karena saat ayat-ayat Al
Quran dilantunkan, hati dan pikiran kita akan tenang dari hiruk pikuk aktivitas
sehari-hari.
Dalam menghapal Al Quran, ada hal penting yang paling susah, yakni menjaga
hapalan tersebut agar tidak lupa. Makanya, dalam menghapal Quran kita harus
konsentrasi.
Konsentrasi itu berupa konsentrasi dalam menghapal dan mengulanginya kembali
(muroja’ah). Karena saat kita menghapal quran sebenarnya amat mudah, Tapi, saat
kita mengulang hapalan tersebut kita kadang kewalahan, apalagi kalau kita sudah
lama tidak muroja’ah (mengulang hapalan). Maka untuk berhasil dalam menghapal
al Quran dibutuhkan konsentrasi yang besar (tingkat tinggi).
Jika sudah hapal beberapa juz dan kita melupakannya dan tidak mengamalkannya
maka kita akan mendapat peringatan dan berdosa.
Selama ini Bahasa Indonesia seringkali dipandang sebagai pelajaran tidak
bergengsi. Tidak jarang siswa kelas menengah dan atas memandangnya dengan
sebelah mata. Maklum saja, anggapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam
komunikasi sehari-hari dipandang telah cukup. Tak perlu belajar pun, anak-anak
sudah bisa berbahasa Indonesia. Padahal tak hanya sebagai alat komunikasi.
Perhatian khusus terhadap pelajaran Bahasa Indonesia akan mampu melejitkan
kecerdasan siswa. Kecerdasan berbahasa ini akan meningkatkan kompetensinya di
berbagai bidang ilmu. Namun hal yang paling penting adalah kemampuan berbahasa
Indonesia akan menunjang proses membangun landasan berpikir siswa. Inilah yang
disebut konsistensi menanamkan Aqidah Islam dalam proses pembelajaran Bahasa
Indonesia. Landasan Kemampuan Berbahasa Indonesia
Setiap kali memulai pelajaran Bahasa Indonesia di kelas baru, siswa selalu
diingatkan pada target pembelajaran bahasa. Di dalam Al Qur’an Surat Fushilat:
33, disebutkan bahwa orang yang terbaik perkataannya adalah mereka yang
menyerukan untuk beriman kepada Allah SWT, beramal shalih dan
mengikrarkan diri secara nyata sebagai seorang muslim. Ahsan Qaulan, dimaksudkan sebagai orang yang paling baik
perkataannya. Perkataan seseorang menggunakan sarana bahasa. Sehingga target
pembelajaran bahasa adalah menjadi orang-orang yang memiliki Ahsan Qaulan.
Ahsan Qaulan adalah sifat dan cara berbahasa orang-orang yang menyeru
kepada Islam (berdakwah), beramal shalih dan menyatakan ke-Islamannya secara
nyata. Inilah yang dimaksud dengan wajibnya Aqidah Islam menjadi landasan
dalam berbahasa. Bisa dikatakan bahwa bahasa seseorang mampu menunjukkan
aqidahnya. Setiap perkataan dan pernyataan seorang muslim tidak boleh
bertentangan dengan aqidahnya. Kewajiban Menggunakan Sudut Pandang Sejak tingkat pertama, siswa diajarkan bagaimana menggunakan
sudut pandang dalam berbahasa. Sudut pandang ini adalah cara memandang fakta,
fenomena, berita dan apapun yang dicerap oleh inderanya tanpa pernah melepaskan
sifat ke-Islamannya. Rasa takjub, heran, sedih, gembira, diwujudkan
dengan kalimat-kalimat tasbih, hamdalah, syukur dan lain-lain.
Masih di tingkat pertama, siswa diajarkan untuk mampu membedakan sudut
pandang yang bersifat Islam dan non Islam. Tulisan-tulisan yang dibaca
siswa dalam artikel-artikel di media massa, tidak selalu bersifat netral. Dalam
pembahasan sains yang berkembang di masyarakat saat ini pun tidak selalu kosong
dari aqidah. Sebagai contoh, artikel yang membahas tentang Fenomena Black Hole,
Penemuan Planet-planet Baru, Badai Matahari dan lain-lain, seringkali tanpa
disadari menyajikan keraguan terhadap Sang Pencipta Alam Raya. Paham liberal,
materialistis dan hedonis, kerap mengikuti pemberitaan media-media massa.
Di tingkat kedua, siswa diajarkan untuk mampu membedakan, apakah sebuah
pernyataan mengandung nilai atau bersifat netral. Antara fakta dan opini,
adalah kenyataan informasi yang akan ditangkap siswa, ketika mereka menerima, mendengar
dan melihat berita-berita di masyarakat. Kemampuan membedakan dan
menilainya, dipengaruhi oleh aqidah tertentu. Inilah satu alasan penting, bahwa
sudut pandang tidak boleh dilepaskan dari cara berbahasa. Mengasah Keahlian Berbahasa
Berbahasa yang baik memerlukan keahlian. Keahlian ini yang akan menentukan,
apakah pesan bisa tersampaikan dengan baik atau tidak. Keahlian ini meliputi
kemampuan menyampaikan secara lisan atau tulisan. Pada setiap tingkatan
pembelajaran Bahasa Indonesia, hampir tidak pernah kosong dari waktu untuk
selalu melatih kemampuan. Inilah sebabnya, ada sesi khusus untuk mengasah
kemampuan berbicara dan menulis.
Sejalan dengan waktu, siswa akan dinilai, bagaimana penggunaan sudut
pandangnya dalam setiap kesempatan. Apakah terbentuk pola berpikir sesuai sudut
pandang Islam (aqidah)? Apakah telah terbentuk kekonsistenan dalam penggunaan
pola ini? Apakah pola berpikirnya telah membentuk perilaku Islami? Bahasa yang
digunakan siswa akan menunjukkan kemampuan ini.
Beberapa tahapan menjadi sandaran untuk menilai kemampuan berpikir siswa.
Pada tahap awal, bagaimana kemampuannya membaca berita? Tahap kedua, bagaimana
kemampuannya menganalisis masalah? Tahap ketiga, bagaimana menilai
masalah sesuai dengan sudut pandang Islam. Proses ini senantiasa diulang-ulang
dalam pembelajaran.
Pengulangan secara konsisten akan meningkatkan kualitas setiap tahapan.
Tahapan inilah yang dalam upaya pengukuran standar kompetensi dipilah menjadi: Pembentukan
Pola Pikir, Berpikir Benar, Berpikir Serius dan Berpikir Cepat. Keahlian Berbahasa Menopang Kemampuan Dakwah
Tak ada yang lebih baik perkataannya, daripada seorang pengemban dakwah
Islam. Pepatah mengatakan, ketajaman lisan dan pena mampu mengalahkan pedang.
Bahasa Dakwah adalah Bahasa Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Bahasa ini kokoh
tegak di atas landasan Aqidah Islam. Bahasa pengemban dakwah sejati, tak lekang
oleh arus zaman. Angin dahsyat Liberalisme, Kapitalisme, Sekularisme dan
Demokrasi tidak akan mampu menggoyahkannya. Bahkan pilihan kata, adalah warna
aqidahnya.
Dengan demikian, tak ada yang lebih penting diperhatikan oleh seorang guru
Bahasa Indonesia, selain dari kekonsistenan Aqidah Islam dalam seluruh ekspresi
Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Sebagaimana terkandung dalam Al Qur’an Surat Fushilat ayat 33, maka
kemampuan bahasa yang tertinggi adalah kemampuan beramar ma’ruf nahi munkar.
Penguasaan Al Qur’an juga menjadi landasan, selain kemampuan berbahasa.
Kemampuan berbahasa Al Qur’an adalah tingkat tertinggi dari segala bentuk
kemampuan berbahasa. Belajar Bahasa Indonesia menjadi tahapan untuk
membawa umat Islam negeri ini menuju kesadaran mempelajari jenis bahasa yang
terbaik, yakni Bahasa Arab. Dengan demikian, motivasi dakwah menjadi
alasan terkuat untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa dakwah
adalah karakter berbahasa para pemimpin.
Sekolah ini sedang mendidik dan membina Para Calon Pemimpin. Aset pahala
bagi kita semua, khususnya para orang tua dan gurunya.