Mulai
tanggal 14 Oktober 2013 sudah libur dan Masuk lagi Hari Senin Tanggal, 21 Oktober
2013. Karena untuk menyambut Hari Raya Idhul Adha
1434 H, dan untuk itu kami dari Keluarga Besar Paud Home Schooling
Khoiru Ummah
El-Fatih Mengucapkan:
,”Selamat
Hari Raya Idhul Adha 1434 H, Selamat Liburan dan Selamat berqurban, semoga qurban kita diterima Allah SWT. Amin ,”
Atas
perhatianya Bapak/Ibu /Wali Murid tidak lupa kami ucapkan terima kasih.
Beberapa orang yakin, bahwa setiap orang yang ingin bersusah payah dalam
mencari ridho Allah agar bisa masuk surga. Semua itu bisa terlaksana (tercapai)
dengan cara yang cukup mudah yaitu dengan tahfizul quran (menghapal Al
Quran).
Tahfizul Quran adalah menghapal Al Quran, dan tidak hanya sebatas
dihapalkan, namun juga diamalkan walaupun baru sebatas satu ayat. Apalagi kalau
sudah banyak ayat yang dihapalkan, agar dakwah Islam bisa tersebar ke seluruh
dunia.
Kenapa dengan tahfizul quran bisa masuk surga secara instant? Karena Allah
Azza wa Jalla akan memasukkan para penghapal Quran kedalam keluargaNya, yakni
keluarga para penghapal Quran.
Selain itu, ternyata ketika menghapalkan Al Quran dapat membuat kita lebih
cerdas dan mudah dalam mengerjakan sesuatu. Kenapa? Karena saat ayat-ayat Al
Quran dilantunkan, hati dan pikiran kita akan tenang dari hiruk pikuk aktivitas
sehari-hari.
Dalam menghapal Al Quran, ada hal penting yang paling susah, yakni menjaga
hapalan tersebut agar tidak lupa. Makanya, dalam menghapal Quran kita harus
konsentrasi.
Konsentrasi itu berupa konsentrasi dalam menghapal dan mengulanginya kembali
(muroja’ah). Karena saat kita menghapal quran sebenarnya amat mudah, Tapi, saat
kita mengulang hapalan tersebut kita kadang kewalahan, apalagi kalau kita sudah
lama tidak muroja’ah (mengulang hapalan). Maka untuk berhasil dalam menghapal
al Quran dibutuhkan konsentrasi yang besar (tingkat tinggi).
Jika sudah hapal beberapa juz dan kita melupakannya dan tidak mengamalkannya
maka kita akan mendapat peringatan dan berdosa.
Selama ini Bahasa Indonesia seringkali dipandang sebagai pelajaran tidak
bergengsi. Tidak jarang siswa kelas menengah dan atas memandangnya dengan
sebelah mata. Maklum saja, anggapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam
komunikasi sehari-hari dipandang telah cukup. Tak perlu belajar pun, anak-anak
sudah bisa berbahasa Indonesia. Padahal tak hanya sebagai alat komunikasi.
Perhatian khusus terhadap pelajaran Bahasa Indonesia akan mampu melejitkan
kecerdasan siswa. Kecerdasan berbahasa ini akan meningkatkan kompetensinya di
berbagai bidang ilmu. Namun hal yang paling penting adalah kemampuan berbahasa
Indonesia akan menunjang proses membangun landasan berpikir siswa. Inilah yang
disebut konsistensi menanamkan Aqidah Islam dalam proses pembelajaran Bahasa
Indonesia. Landasan Kemampuan Berbahasa Indonesia
Setiap kali memulai pelajaran Bahasa Indonesia di kelas baru, siswa selalu
diingatkan pada target pembelajaran bahasa. Di dalam Al Qur’an Surat Fushilat:
33, disebutkan bahwa orang yang terbaik perkataannya adalah mereka yang
menyerukan untuk beriman kepada Allah SWT, beramal shalih dan
mengikrarkan diri secara nyata sebagai seorang muslim. Ahsan Qaulan, dimaksudkan sebagai orang yang paling baik
perkataannya. Perkataan seseorang menggunakan sarana bahasa. Sehingga target
pembelajaran bahasa adalah menjadi orang-orang yang memiliki Ahsan Qaulan.
Ahsan Qaulan adalah sifat dan cara berbahasa orang-orang yang menyeru
kepada Islam (berdakwah), beramal shalih dan menyatakan ke-Islamannya secara
nyata. Inilah yang dimaksud dengan wajibnya Aqidah Islam menjadi landasan
dalam berbahasa. Bisa dikatakan bahwa bahasa seseorang mampu menunjukkan
aqidahnya. Setiap perkataan dan pernyataan seorang muslim tidak boleh
bertentangan dengan aqidahnya. Kewajiban Menggunakan Sudut Pandang Sejak tingkat pertama, siswa diajarkan bagaimana menggunakan
sudut pandang dalam berbahasa. Sudut pandang ini adalah cara memandang fakta,
fenomena, berita dan apapun yang dicerap oleh inderanya tanpa pernah melepaskan
sifat ke-Islamannya. Rasa takjub, heran, sedih, gembira, diwujudkan
dengan kalimat-kalimat tasbih, hamdalah, syukur dan lain-lain.
Masih di tingkat pertama, siswa diajarkan untuk mampu membedakan sudut
pandang yang bersifat Islam dan non Islam. Tulisan-tulisan yang dibaca
siswa dalam artikel-artikel di media massa, tidak selalu bersifat netral. Dalam
pembahasan sains yang berkembang di masyarakat saat ini pun tidak selalu kosong
dari aqidah. Sebagai contoh, artikel yang membahas tentang Fenomena Black Hole,
Penemuan Planet-planet Baru, Badai Matahari dan lain-lain, seringkali tanpa
disadari menyajikan keraguan terhadap Sang Pencipta Alam Raya. Paham liberal,
materialistis dan hedonis, kerap mengikuti pemberitaan media-media massa.
Di tingkat kedua, siswa diajarkan untuk mampu membedakan, apakah sebuah
pernyataan mengandung nilai atau bersifat netral. Antara fakta dan opini,
adalah kenyataan informasi yang akan ditangkap siswa, ketika mereka menerima, mendengar
dan melihat berita-berita di masyarakat. Kemampuan membedakan dan
menilainya, dipengaruhi oleh aqidah tertentu. Inilah satu alasan penting, bahwa
sudut pandang tidak boleh dilepaskan dari cara berbahasa. Mengasah Keahlian Berbahasa
Berbahasa yang baik memerlukan keahlian. Keahlian ini yang akan menentukan,
apakah pesan bisa tersampaikan dengan baik atau tidak. Keahlian ini meliputi
kemampuan menyampaikan secara lisan atau tulisan. Pada setiap tingkatan
pembelajaran Bahasa Indonesia, hampir tidak pernah kosong dari waktu untuk
selalu melatih kemampuan. Inilah sebabnya, ada sesi khusus untuk mengasah
kemampuan berbicara dan menulis.
Sejalan dengan waktu, siswa akan dinilai, bagaimana penggunaan sudut
pandangnya dalam setiap kesempatan. Apakah terbentuk pola berpikir sesuai sudut
pandang Islam (aqidah)? Apakah telah terbentuk kekonsistenan dalam penggunaan
pola ini? Apakah pola berpikirnya telah membentuk perilaku Islami? Bahasa yang
digunakan siswa akan menunjukkan kemampuan ini.
Beberapa tahapan menjadi sandaran untuk menilai kemampuan berpikir siswa.
Pada tahap awal, bagaimana kemampuannya membaca berita? Tahap kedua, bagaimana
kemampuannya menganalisis masalah? Tahap ketiga, bagaimana menilai
masalah sesuai dengan sudut pandang Islam. Proses ini senantiasa diulang-ulang
dalam pembelajaran.
Pengulangan secara konsisten akan meningkatkan kualitas setiap tahapan.
Tahapan inilah yang dalam upaya pengukuran standar kompetensi dipilah menjadi: Pembentukan
Pola Pikir, Berpikir Benar, Berpikir Serius dan Berpikir Cepat. Keahlian Berbahasa Menopang Kemampuan Dakwah
Tak ada yang lebih baik perkataannya, daripada seorang pengemban dakwah
Islam. Pepatah mengatakan, ketajaman lisan dan pena mampu mengalahkan pedang.
Bahasa Dakwah adalah Bahasa Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Bahasa ini kokoh
tegak di atas landasan Aqidah Islam. Bahasa pengemban dakwah sejati, tak lekang
oleh arus zaman. Angin dahsyat Liberalisme, Kapitalisme, Sekularisme dan
Demokrasi tidak akan mampu menggoyahkannya. Bahkan pilihan kata, adalah warna
aqidahnya.
Dengan demikian, tak ada yang lebih penting diperhatikan oleh seorang guru
Bahasa Indonesia, selain dari kekonsistenan Aqidah Islam dalam seluruh ekspresi
Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Sebagaimana terkandung dalam Al Qur’an Surat Fushilat ayat 33, maka
kemampuan bahasa yang tertinggi adalah kemampuan beramar ma’ruf nahi munkar.
Penguasaan Al Qur’an juga menjadi landasan, selain kemampuan berbahasa.
Kemampuan berbahasa Al Qur’an adalah tingkat tertinggi dari segala bentuk
kemampuan berbahasa. Belajar Bahasa Indonesia menjadi tahapan untuk
membawa umat Islam negeri ini menuju kesadaran mempelajari jenis bahasa yang
terbaik, yakni Bahasa Arab. Dengan demikian, motivasi dakwah menjadi
alasan terkuat untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa dakwah
adalah karakter berbahasa para pemimpin.
Sekolah ini sedang mendidik dan membina Para Calon Pemimpin. Aset pahala
bagi kita semua, khususnya para orang tua dan gurunya.
Allah berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami yang benar-benar memeliharanya," surah al-Hijr ayat 9.
Allah
menjamin terpeliharanya Alquran hingga kini dan hingga hari kiamat
nanti melalui para hafiz dan hafizah. Dari ingatan merekalah ayat-ayat
Allah terjaga kemurniannya. Merekalah orang-orang terpilih yang mendapat
tugas sebagai pemelihara kitab suci.
Menjaga Alquran dengan menghafal sebetulnya telah diterapkan oleh Rasulullah. Nabi Muhammad merupakan seorang yang ummi.
Acapkali
Jibril menyampaikan wahyu dari langit, Rasulullah akan segera
menghafalnya. Hafalan Rasulullah pun mendapat jaminan dari Allah
sehingga tak akan pernah luput sehuruf pun.
"Janganlah kamu
menggerakan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat
menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di
dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya," firman Allah dalam surah al-Qiyamah ayat 16--17.
Gaya
menghafal ini pun kemudian diteruskan oleh para sahabat. Di tanah Arab,
budaya menghafal memang lebih diagungkan ketimbang budaya menulis.
Sejak
era kuno, masyarakat Arab terbiasa menghafal syair-syair indah. Dengan
budaya seperti itu, daya hafal bangsa Arab pun lebih tajam dibanding
bangsa lain.
Alhasil, meski Rasulullah seringkali meminta sahabat untuk menuliskan ayat Allah, tulisan tak menjadi sumber utama.
Daya
ingat para sahabatlah yang menjadi pemelihara Alquran. Hampir semua
sahabat Rasulullah menghafal ayat Quran dengan teliti dan pemahaman yang
sempurna.
Namun, setelah wafatnya Rasulullah, banyak peperangan terjadi. Para sahabat gugur satu per satu di medan perang.
Hingga
di era kekhalifahan Usman bin Affan, jumlah para penghafal Alquran
benar-benar tinggal hitungan jari, terutama setelah perang Yamamah.
Maka, sejak itulah Alquran mulai dikumpulkan dan dibukukan oleh Khalifah
Usman.
Proses pengumpulan Alquran ini tentu tidak mudah.
Khalifah Usman mencari sahabat Rasulullah yang hafiz dan kuat
hafalannya. Zaid bin Tsabitlah yang kemudian terpilih memimpin proyek
mulia tersebut.
Sebetulnya, pengumpulan Alquran telah digalakkan
sejak era kekhalifahan Abu Bakar. Zaid bin Tsabit dipanggil untuk
menghimpun Alquran dengan mengumpulkan para hafiz.
"Demi
Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari
tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Alquran," ujar Zaid saat diamanahi tugas tersebut.
Maka
ditulislah beberapa mushaf Alquran. Di masa Khalifah Usman,
mushaf-mushaf tersebut baru dikumpulkan. Lagi-lagi, Zaid yang mendapat
tugas itu kembali.
Di kalangan sahabat dan tabi'in, Zaid memang
terkenal sebagai sekretaris Rasulullah. Saat Nabi Muhammad masih hidup,
Zaid banyak menuliskan surat kenegaraan hingga kalamullah.
Maka
tidak mengherankan jika dia yang mendapat amanah tersebut. Belum lagi
keutamaannya yang sangat dekat dengan Rasulullah dan mengemban tugas
sebagai hafizul Quran.
Bahkan, saat pemerintahan Islam berdiri di
Madinah, Tsabit pula yang menjadi ketua tim qari. "Para sahabat nabi
tahu betul kalau keilmuan Zaid bin Tsabit sangat menonjol," ujar Ibnu
Abbas.
Demikian juga Ibnu Abbas. Dia juga merupakan seorang
penghafal Quran. Ia bahkan telah menghafal seluruh Quran di usia yang
sangat belia mengingat ia telah menjadi pengikut setia Rasulullah sejak
masih kanak-kanak.
Hanya saja, Ibnu Abbas lebih ternama dengan
banyaknya hadis Rasul yang ia riwayatkan. Alhasil, dia pun memiliki
kemampuan tinggi dalam menafsirkan ayat Quran. Ibnu Mas'ud bahkan
menyebut Ibnu Abbas sebagai ahli tafsir terbaik.
Terdapat pula
nama Ubai Bin Ka'ab. Selain Zaid bin Tsabit, Ubai pun pernah menjadi
sekretaris Rasulullah. Bersama Zaid, Ubai sangat rajin menulis
kalamullah.
Zaid dan Ubai berada di bawah pengawasan Rasulullah
saat menulis Quran. Umar bin Khattab bahkan menyebut Ubai sebagai qari
terbaik. Khalifah Umar juga berkata, "Barang siapa yang hendak
menanyakan tentang Alquran, datanglah ke Ubai."
Masih banyak
nama-nama sahabat Rasulullah yang merupakan hafizul quran. Para
Khulafaur Rasyidin pun merupakan para penghafal Alquran. Sebagaimana
disebut sebelumnya, hampir seluruh sahabat Rasulullah merupakan
penghafal Alquran.
Dari para sahabat, tradisi menghafal Alquran
terus diwariskan. Bahkan, ketika Alquran telah ditulis dan dikumpulkan,
tradisi tersebut tak pernah sirna.
Tak hanya di tanah Arab,
Muslimin di negara lain pun berusaha bisa menghafal Alquran mengingat
keutamaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dari semangat menghafal
Alquran inilah Allah menjaga kalam-Nya terus murni hingga hari akhir.Sumber
Metrotvnews.com, Jakarta: Keberatan dan kritik terhadap
masalah Ujian Nasional (UN) terus disuarakan berbagai pihak, mulai dari tokoh
dan pendidikan sampai anggota DPR.
Hal tersebut mengemuka pada acara Konvensi Rakyat bertajuk Evaluasi Satu Dasawarsa
Ujian Nasional, di Gedung Joeang, Jakarta, Selasa (24/9).
Sejumlah guru besar seperti Iwan Pranoto dari ITB yang juga penggagas Koalis
Reformasi Pendidikan (KRP), Daniel Rasyid dari ITS, Saparinah Sadli dari UI,
anggota DPR Miing Dedi Gumelar (FPDI Perjuangan),Rohmani (FPKS), dan Irsal
Yunus (FPDI Perjuangan) serta puluhan aktivis pendidikan yang mengenakan kaos
putih bertuliskan Stop UN nampak bersemangat menghadiri acara semacam Konvensi
Tandingan menyusul akan digelarnya Konvensi Nasional UN di Jakarta pada 26-27
September 2013.
“Ujian Nasional sudah berlangsung selama 10 tahun, namun tak pernah
dievaluasi dengan serius berdasarkan persfektif keadilan, mindset rakyat (bukan
penguasa) dan berdasarkan prinsip evaluasi yang benar. Bahkan, berbagai
dampak buruk UN terjadi selama satu dasawarsa pun tampaknya tak di percaya oleh
para pengambil kebijakan di Kemendikbud. Padahal, UN memberi dampak psikologis,
sosial, politik, keuangan, dan makin rendahnya mutu pendidikan anak bangsa baik
di tingkat nasional maupun internasional,” papar Retno Listyarti, salah seorang
aktivis Koalisi Reformasi Pendidikan (KRP).
“Berangkat dari dampak-dampak buruk itulah, maka Koalisi Reformasi Pendidikan
(KRP) mengevaluasi Ujian Nasional dari berbagai perspektif dalam sebuah
Konvensi Rakyat bertajuk Evaluasi Satu Dasawarsa Ujian Nasional, pada 24
September 2013 di Gedung Joeang,” ujar Habe Arifin, Ketua Konvensi Rakyat.
Konvensi diselenggarakan untuk mengevaluasi UN dari perspektif hukum.
Hasilnya, kata Suparman, menunjukkan selama satu dasawarsa UN
bertentangan dengan UU Sisdiknas. Selain itu, pemerintah membangkang keputusan
Mahkamah Agung. "Pembangkangan pemerintah terhadap keputusan MA harus
dihentikan.
Ini buruk sekali bagi pembelajaran bangsa," tutur praktisi dan pegiat
pendidikan Suparman. Dari perspektif pembelajaran, UN dinilai membunuh
kreativitas guru, membodohkan sistem belajar-mengajar, sehingga guru dan siswa
sama-sama hanya melaksanakan latihan soal dan tidak lagi belajar, apalagi
bernalar.
"Budaya belajar direduksi menjadi berlatih soal ujian nasional,"
tegas Itje Chodidjah, aktivis KRP dari Ikatan Guru Indonesia.
Pemerhati pendidikan Elin Driana menilai dari perbandingan negara-negara di
dunia, UN tidak banyak dilaksanakan karena dampaknya memerosotkan kualitas
belajar siswa dan menciptakan ketakutan yang luar biasa.
"Di Amerika tidak ada Ujian Nasional. UN hanya dilaksanakan di sejumlah
negara bagian yang disesuaikan dengan kondisi setempat," tutur Elin
Driana, dosen Uhamka Jakarta. (Syarief Oebaidillah)