Jumat, 11 Oktober 2013

Pengumuman Diberitahukan Kepada Seluruh Orang Tua Murid


PENGUMUMAN
Dengan Hormat
Dengan ini diberitahukan bahwa :
Mulai tanggal 14 Oktober 2013 sudah libur dan Masuk lagi  Hari Senin Tanggal, 21 Oktober  2013.  Karena untuk menyambut Hari Raya Idhul Adha 1434 H, dan untuk itu kami dari Keluarga Besar Paud Home Schooling Khoiru Ummah El-Fatih Mengucapkan:
,”Selamat Hari Raya Idhul Adha 1434 H, Selamat Liburan dan Selamat berqurban,  semoga qurban kita diterima Allah SWT. Amin ,”
Atas perhatianya Bapak/Ibu /Wali Murid tidak lupa kami ucapkan terima kasih.
Hormat Kami
Kepala Sekolah
Home Schooling Khoiru Ummah El-Fatih
Ttd
Ibu Ibu Indriyati

Kamis, 10 Oktober 2013

Manfaat Tahfizul Quran



Oleh Baginda Yusuf
 
Beberapa orang yakin, bahwa setiap orang yang ingin bersusah payah dalam mencari ridho Allah agar bisa masuk surga. Semua itu bisa terlaksana (tercapai) dengan cara yang cukup mudah yaitu dengan tahfizul quran (menghapal Al Quran).
Tahfizul Quran adalah menghapal Al Quran, dan tidak hanya sebatas dihapalkan, namun juga diamalkan walaupun baru sebatas satu ayat. Apalagi kalau sudah banyak ayat yang dihapalkan, agar dakwah Islam bisa tersebar ke seluruh dunia.
Kenapa dengan tahfizul quran bisa masuk surga secara instant? Karena Allah Azza wa Jalla akan memasukkan para penghapal Quran kedalam keluargaNya, yakni keluarga para penghapal Quran.
Selain itu, ternyata ketika menghapalkan Al Quran dapat membuat kita lebih cerdas dan mudah dalam mengerjakan sesuatu. Kenapa? Karena saat ayat-ayat Al Quran dilantunkan, hati dan pikiran kita akan tenang dari hiruk pikuk aktivitas sehari-hari.
Dalam menghapal Al Quran, ada hal penting yang paling susah, yakni menjaga hapalan tersebut agar tidak lupa. Makanya, dalam menghapal Quran kita harus konsentrasi.
Konsentrasi itu berupa konsentrasi dalam menghapal dan mengulanginya kembali (muroja’ah). Karena saat kita menghapal quran sebenarnya amat mudah, Tapi, saat kita mengulang hapalan tersebut kita kadang kewalahan, apalagi kalau kita sudah lama tidak muroja’ah (mengulang hapalan). Maka untuk berhasil dalam menghapal al Quran dibutuhkan konsentrasi yang besar (tingkat tinggi).
Jika sudah hapal beberapa juz dan kita melupakannya dan tidak mengamalkannya maka kita akan mendapat peringatan dan berdosa.

Bahasa Indonesia Dari Sudut Pandang Aqidah Islam

Oleh ustadzah Ir. Lathifah Musa
Selama ini Bahasa Indonesia seringkali dipandang sebagai pelajaran tidak bergengsi. Tidak jarang siswa kelas menengah dan atas memandangnya dengan sebelah mata. Maklum saja, anggapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari dipandang telah cukup. Tak perlu belajar pun, anak-anak sudah bisa berbahasa Indonesia. Padahal tak hanya sebagai alat komunikasi.
Perhatian khusus terhadap pelajaran Bahasa Indonesia akan mampu melejitkan kecerdasan siswa. Kecerdasan berbahasa ini akan meningkatkan kompetensinya di berbagai bidang ilmu. Namun hal yang paling penting adalah kemampuan berbahasa Indonesia akan menunjang proses membangun landasan berpikir siswa. Inilah yang disebut konsistensi menanamkan Aqidah Islam dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia.
Landasan Kemampuan Berbahasa Indonesia
Setiap kali memulai pelajaran Bahasa Indonesia di kelas baru, siswa selalu diingatkan pada target pembelajaran bahasa. Di dalam Al Qur’an Surat Fushilat: 33, disebutkan bahwa orang yang terbaik perkataannya adalah mereka yang menyerukan untuk beriman kepada  Allah SWT, beramal shalih dan mengikrarkan diri secara nyata sebagai seorang muslim.
Ahsan Qaulan, dimaksudkan sebagai orang yang paling baik perkataannya. Perkataan seseorang menggunakan sarana bahasa. Sehingga target pembelajaran bahasa adalah menjadi orang-orang yang memiliki Ahsan Qaulan.

Ahsan Qaulan adalah sifat dan cara berbahasa orang-orang yang menyeru kepada Islam (berdakwah), beramal shalih dan menyatakan ke-Islamannya secara nyata.  Inilah yang dimaksud dengan wajibnya Aqidah Islam menjadi landasan dalam berbahasa. Bisa dikatakan bahwa bahasa seseorang mampu menunjukkan aqidahnya. Setiap perkataan dan pernyataan seorang muslim  tidak boleh bertentangan dengan aqidahnya.
Kewajiban Menggunakan Sudut Pandang
 Sejak tingkat pertama, siswa diajarkan bagaimana menggunakan sudut pandang dalam berbahasa. Sudut pandang ini adalah cara memandang fakta, fenomena, berita dan apapun yang dicerap oleh inderanya tanpa pernah melepaskan sifat ke-Islamannya.  Rasa takjub, heran, sedih, gembira, diwujudkan dengan kalimat-kalimat tasbih, hamdalah, syukur dan lain-lain.
Masih di tingkat pertama, siswa diajarkan untuk mampu membedakan sudut pandang yang bersifat Islam dan non Islam.  Tulisan-tulisan yang dibaca siswa dalam artikel-artikel di media massa, tidak selalu bersifat netral. Dalam pembahasan sains yang berkembang di masyarakat saat ini pun tidak selalu kosong dari aqidah. Sebagai contoh, artikel yang membahas tentang Fenomena Black Hole, Penemuan Planet-planet Baru, Badai Matahari dan lain-lain, seringkali tanpa disadari menyajikan keraguan terhadap Sang Pencipta Alam Raya. Paham liberal, materialistis dan hedonis, kerap mengikuti pemberitaan media-media massa.
Di tingkat kedua, siswa diajarkan untuk mampu membedakan, apakah sebuah pernyataan mengandung nilai atau bersifat netral. Antara fakta dan opini, adalah kenyataan informasi yang akan ditangkap siswa, ketika mereka menerima, mendengar dan melihat berita-berita di masyarakat.  Kemampuan membedakan dan menilainya, dipengaruhi oleh aqidah tertentu. Inilah satu alasan penting, bahwa sudut pandang tidak boleh dilepaskan dari cara berbahasa.
Mengasah Keahlian Berbahasa
Berbahasa yang baik memerlukan keahlian. Keahlian ini yang akan menentukan, apakah pesan bisa tersampaikan dengan baik atau tidak. Keahlian ini meliputi kemampuan menyampaikan secara lisan atau tulisan. Pada setiap tingkatan pembelajaran Bahasa Indonesia, hampir tidak pernah kosong dari waktu untuk selalu melatih kemampuan. Inilah sebabnya, ada sesi  khusus untuk mengasah kemampuan berbicara dan menulis.
Sejalan dengan waktu, siswa akan dinilai, bagaimana penggunaan sudut pandangnya dalam setiap kesempatan. Apakah terbentuk pola berpikir sesuai sudut pandang Islam (aqidah)? Apakah telah terbentuk kekonsistenan dalam penggunaan pola ini? Apakah pola berpikirnya telah membentuk perilaku Islami? Bahasa yang digunakan siswa akan menunjukkan kemampuan ini.
Beberapa tahapan menjadi sandaran untuk menilai kemampuan berpikir siswa. Pada tahap awal, bagaimana kemampuannya membaca berita? Tahap kedua, bagaimana kemampuannya menganalisis  masalah? Tahap ketiga, bagaimana menilai masalah sesuai dengan sudut pandang Islam. Proses ini senantiasa diulang-ulang dalam pembelajaran.
Pengulangan secara konsisten akan meningkatkan kualitas setiap tahapan. Tahapan inilah yang dalam upaya pengukuran standar kompetensi dipilah menjadi: Pembentukan Pola Pikir, Berpikir Benar, Berpikir Serius dan Berpikir Cepat. 
Keahlian Berbahasa Menopang Kemampuan Dakwah

Tak ada yang lebih baik perkataannya, daripada seorang pengemban dakwah Islam. Pepatah mengatakan, ketajaman lisan dan pena mampu mengalahkan pedang.
Bahasa Dakwah adalah Bahasa Amar Ma’ruf Nahi Munkar.  Bahasa ini kokoh tegak di atas landasan Aqidah Islam. Bahasa pengemban dakwah sejati, tak lekang oleh arus zaman. Angin dahsyat Liberalisme, Kapitalisme, Sekularisme dan Demokrasi tidak akan mampu menggoyahkannya. Bahkan pilihan kata, adalah warna aqidahnya.
Dengan demikian, tak ada yang lebih penting diperhatikan oleh seorang guru Bahasa Indonesia, selain dari kekonsistenan Aqidah Islam dalam seluruh ekspresi Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Sebagaimana terkandung dalam Al Qur’an Surat Fushilat ayat 33, maka kemampuan bahasa yang tertinggi adalah kemampuan beramar ma’ruf nahi munkar. Penguasaan Al Qur’an juga menjadi landasan, selain kemampuan berbahasa.
Kemampuan berbahasa Al Qur’an adalah tingkat tertinggi dari segala bentuk kemampuan  berbahasa. Belajar Bahasa Indonesia menjadi tahapan untuk membawa umat Islam negeri ini menuju kesadaran mempelajari jenis bahasa yang terbaik, yakni Bahasa Arab.  Dengan demikian, motivasi dakwah menjadi alasan terkuat untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa dakwah adalah karakter berbahasa para pemimpin.
Sekolah ini sedang mendidik dan membina Para Calon Pemimpin. Aset pahala bagi kita semua, khususnya para orang tua dan gurunya.


Selasa, 24 September 2013

Di Tanah Arab, budaya menghafal lebih diagungkan ketimbang menulis.


Allah berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami yang benar-benar memeliharanya," surah al-Hijr ayat 9.

Allah menjamin terpeliharanya Alquran hingga kini dan hingga hari kiamat nanti melalui para hafiz dan hafizah. Dari ingatan merekalah ayat-ayat Allah terjaga kemurniannya. Merekalah orang-orang terpilih yang mendapat tugas sebagai pemelihara kitab suci.

Menjaga Alquran dengan menghafal sebetulnya telah diterapkan oleh Rasulullah. Nabi Muhammad merupakan seorang yang ummi.

Acapkali Jibril menyampaikan wahyu dari langit, Rasulullah akan segera menghafalnya. Hafalan Rasulullah pun mendapat jaminan dari Allah sehingga tak akan pernah luput sehuruf pun.

"Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya," firman Allah dalam surah al-Qiyamah ayat 16--17.

Gaya menghafal ini pun kemudian diteruskan oleh para sahabat. Di tanah Arab, budaya menghafal memang lebih diagungkan ketimbang budaya menulis.

Sejak era kuno, masyarakat Arab terbiasa menghafal syair-syair indah. Dengan budaya seperti itu, daya hafal bangsa Arab pun lebih tajam dibanding bangsa lain.

Alhasil, meski Rasulullah seringkali meminta sahabat untuk menuliskan ayat Allah, tulisan tak menjadi sumber utama.

Daya ingat para sahabatlah yang menjadi pemelihara Alquran. Hampir semua sahabat Rasulullah menghafal ayat Quran dengan teliti dan pemahaman yang sempurna.

Namun, setelah wafatnya Rasulullah, banyak peperangan terjadi. Para sahabat gugur satu per satu di medan perang.

Hingga di era kekhalifahan Usman bin Affan, jumlah para penghafal Alquran benar-benar tinggal hitungan jari, terutama setelah perang Yamamah. Maka, sejak itulah Alquran mulai dikumpulkan dan dibukukan oleh Khalifah Usman.

Proses pengumpulan Alquran ini tentu tidak mudah. Khalifah Usman mencari sahabat Rasulullah yang hafiz dan kuat hafalannya. Zaid bin Tsabitlah yang kemudian terpilih memimpin proyek mulia tersebut.

Sebetulnya, pengumpulan Alquran telah digalakkan sejak era kekhalifahan Abu Bakar. Zaid bin Tsabit dipanggil untuk menghimpun Alquran dengan mengumpulkan para hafiz.

"Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Alquran," ujar Zaid saat diamanahi tugas tersebut.

Maka ditulislah beberapa mushaf Alquran. Di masa Khalifah Usman, mushaf-mushaf tersebut baru dikumpulkan. Lagi-lagi, Zaid yang mendapat tugas itu kembali.

Di kalangan sahabat dan tabi'in, Zaid memang terkenal sebagai sekretaris Rasulullah. Saat Nabi Muhammad masih hidup, Zaid banyak menuliskan surat kenegaraan hingga kalamullah.

Maka tidak mengherankan jika dia yang mendapat amanah tersebut. Belum lagi keutamaannya yang sangat dekat dengan Rasulullah dan mengemban tugas sebagai hafizul Quran.

Bahkan, saat pemerintahan Islam berdiri di Madinah, Tsabit pula yang menjadi ketua tim qari. "Para sahabat nabi tahu betul kalau keilmuan Zaid bin Tsabit sangat menonjol," ujar Ibnu Abbas.

Demikian juga Ibnu Abbas. Dia juga merupakan seorang penghafal Quran. Ia bahkan telah menghafal seluruh Quran di usia yang sangat belia mengingat ia telah menjadi pengikut setia Rasulullah sejak masih kanak-kanak.

Hanya saja, Ibnu Abbas lebih ternama dengan banyaknya hadis Rasul yang ia riwayatkan. Alhasil, dia pun memiliki kemampuan tinggi dalam menafsirkan ayat Quran. Ibnu Mas'ud bahkan menyebut Ibnu Abbas sebagai ahli tafsir terbaik.

Terdapat pula nama Ubai Bin Ka'ab. Selain Zaid bin Tsabit, Ubai pun pernah menjadi sekretaris Rasulullah. Bersama Zaid, Ubai sangat rajin menulis kalamullah.

Zaid dan Ubai berada di bawah pengawasan Rasulullah saat menulis Quran. Umar bin Khattab bahkan menyebut Ubai sebagai qari terbaik. Khalifah Umar juga berkata, "Barang siapa yang hendak menanyakan tentang Alquran, datanglah ke Ubai."

Masih banyak nama-nama sahabat Rasulullah yang merupakan hafizul quran. Para Khulafaur Rasyidin pun merupakan para penghafal Alquran. Sebagaimana disebut sebelumnya, hampir seluruh sahabat Rasulullah merupakan penghafal Alquran.

Dari para sahabat, tradisi menghafal Alquran terus diwariskan. Bahkan, ketika Alquran telah ditulis dan dikumpulkan, tradisi tersebut tak pernah sirna.

Tak hanya di tanah Arab, Muslimin di negara lain pun berusaha bisa menghafal Alquran mengingat keutamaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dari semangat menghafal Alquran inilah Allah menjaga kalam-Nya terus murni hingga hari akhir.Sumber


Metrotvnews.com, Jakarta: Keberatan dan kritik terhadap masalah Ujian Nasional (UN) terus disuarakan berbagai pihak, mulai dari tokoh dan pendidikan sampai anggota DPR.

Hal tersebut mengemuka pada acara Konvensi Rakyat bertajuk Evaluasi Satu Dasawarsa Ujian Nasional, di Gedung Joeang, Jakarta, Selasa (24/9).

Sejumlah guru besar seperti Iwan Pranoto dari ITB yang juga penggagas Koalis Reformasi Pendidikan (KRP), Daniel Rasyid dari ITS, Saparinah Sadli dari UI, anggota DPR Miing Dedi Gumelar (FPDI Perjuangan),Rohmani (FPKS), dan Irsal Yunus (FPDI Perjuangan) serta puluhan aktivis pendidikan yang mengenakan kaos putih bertuliskan Stop UN nampak bersemangat menghadiri acara semacam Konvensi Tandingan menyusul akan digelarnya Konvensi Nasional UN di Jakarta pada 26-27 September 2013.

“Ujian Nasional sudah berlangsung selama 10 tahun,  namun tak pernah dievaluasi dengan serius berdasarkan persfektif keadilan, mindset rakyat (bukan penguasa) dan  berdasarkan prinsip evaluasi yang benar. Bahkan, berbagai dampak buruk UN terjadi selama satu dasawarsa pun tampaknya tak di percaya oleh para pengambil kebijakan di Kemendikbud. Padahal, UN memberi dampak psikologis, sosial, politik, keuangan, dan makin rendahnya mutu pendidikan anak bangsa baik di tingkat nasional maupun internasional,” papar Retno Listyarti, salah seorang aktivis Koalisi Reformasi Pendidikan (KRP).

“Berangkat dari dampak-dampak buruk itulah, maka Koalisi Reformasi Pendidikan (KRP) mengevaluasi Ujian Nasional dari berbagai perspektif dalam sebuah Konvensi Rakyat bertajuk Evaluasi Satu Dasawarsa Ujian Nasional,  pada 24 September 2013 di Gedung Joeang,” ujar Habe Arifin, Ketua Konvensi Rakyat.

Konvensi diselenggarakan untuk mengevaluasi UN dari  perspektif hukum. Hasilnya, kata Suparman, menunjukkan selama satu dasawarsa UN  bertentangan dengan UU Sisdiknas. Selain itu, pemerintah membangkang keputusan Mahkamah Agung. "Pembangkangan pemerintah terhadap keputusan MA harus dihentikan.
Ini buruk sekali bagi pembelajaran bangsa," tutur praktisi dan pegiat pendidikan Suparman. Dari perspektif pembelajaran, UN dinilai membunuh kreativitas guru, membodohkan sistem belajar-mengajar, sehingga guru dan siswa sama-sama  hanya melaksanakan latihan soal dan tidak lagi belajar, apalagi bernalar.

"Budaya belajar direduksi menjadi berlatih soal ujian nasional," tegas Itje Chodidjah, aktivis KRP dari Ikatan Guru Indonesia.

Pemerhati pendidikan Elin Driana menilai dari perbandingan negara-negara di dunia, UN tidak banyak dilaksanakan karena dampaknya memerosotkan kualitas belajar siswa dan menciptakan ketakutan yang luar biasa.

"Di Amerika tidak ada Ujian Nasional. UN hanya dilaksanakan di sejumlah negara bagian yang disesuaikan dengan kondisi setempat," tutur Elin Driana, dosen Uhamka Jakarta. (Syarief Oebaidillah)